Makna & Rukun Dua Kalimat Syahadat
Setiap kalimat syahadat memiliki dua rukun pokok yang saling melengkapi
Rukun Syahadat Tauhid
Kalimat "Laa Ilaaha Illallaah" berdiri di atas dua rukun pokok yang tidak dapat dipisahkan:
لَا إِلٰهَ
Meniadakan dan menolak hak peribadatan dari segala sesuatu selain Allah (menolak segala bentuk thaghut, berhala, dan sesembahan palsu).
إِلَّا اللهُ
Menetapkan ibadah hanya semata-mata untuk Allah Ta'ala semata, tanpa ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah, uluhiyyah, maupun asma wa sifat.
Konsekuensi Syahadat Rasul
Pengakuan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah menuntut 4 kewajiban utama seorang muslim:
-
Mentaati apa yang beliau perintahkan (Itha'atuhu fima amara) tanpa keraguan.
-
Membenarkan apa yang beliau kabarkan (Tashdiquhu fima akhbara) baik masa lalu maupun masa depan.
-
Menjauhi apa yang beliau larang (Ijtinabu ma naha 'anhu wa zajara).
-
Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau bawa (tidak membuat amalan bid'ah).
7 Syarat Sah Kalimat Syahadat
Syahadat bukan sekadar ucapan lisan, melainkan kunci surga yang memiliki 7 gigi (syarat)
1. Al-'Ilm (Berilmu)
Memahami arti dan maksud syahadat, meniadakan kebodohan (al-jahl). Paham apa yang dinafikan dan apa yang ditetapkan.
2. Al-Yaqin (Meyakini)
Meyakini kebenarannya sepenuh hati tanpa ada sedikit pun keraguan atau kebimbangan (asy-syakk) di dalam dada.
3. Al-Qabul (Menerima)
Menerima segala konsekuensi syahadat secara lahir dan batin, menolak sikap sombong atau menolak kebenaran (ar-radd).
4. Al-Inqiyad (Tunduk & Patuh)
Tunduk berserah diri mengamalkan syariat Allah dengan tulus, serta meninggalkan segala larangan-Nya.
5. Ash-Shidq (Jujur)
Mengucapkannya dengan penuh kejujuran hati yang selaras dengan lisannya, bukan seperti orang munafik yang berdusta.
6. Al-Ikhlas (Ikhlas)
Memurnikan amal ibadah semata-mata hanya mengharap wajah dan ridha Allah Ta'ala, bersih dari riya' dan syirik.
7. Al-Mahabbah (Cinta)
Mencintai Allah, Rasul-Nya, kalimat tauhid ini, serta mencintai orang-orang beriman yang mengamalkannya.
Keutamaan Agung Dua Kalimat Syahadat
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang akhir ucapannya (sebelum wafat) adalah Laa ilaaha illallaah, maka ia masuk surga." (HR. Abu Dawud).
Dalam hadis Bithaqah (lembaran kartu bertuliskan syahadat), kalimat ini lebih berat daripada 99 gulungan catatan dosa yang terbentang sejauh mata memandang.
Menjadi penghalang dari kekekalan api neraka bagi siapa saja yang mengucapkannya dengan ikhlas dan membenarkannya dengan hati nurani.
Dzikir paling utama yang dapat mengokohkan hati seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan dan saat menghadapi sakaratul maut.